|
| yah, sepertinya aku masih terlalu muda, seorang pemikir, penulis bebas, idealist dan realist, sebagai seorang pemimpi yang sering berusaha untuk terus hidup dalam dunia yang tak karuan ini
meski aku tak tahu soal apa pun kecuali tentang cinta dan kehidupan hanya warna dan detik detik aksara menari dalam gelungan khayalan ini
namun apapun keadaan yang terjadi sekalipun aku akan terus mencipta ruang-ruang untuk hidup dengan penuh kata kata sepanjang hayat yang ada, sedalam nafas yang terhembus
| | |
| di antara ramai penuh sorak sorai ku insyafi diriku, dimana sepi memagut nyawa kulihat kesendirian merenggut jiwa mereka bilang semua segera berlalu layaknya topeng palsu mengubur kelu
aku hanya pengembara.. yang menunggunya menghampiriku aku hanya penikmat hari.. yang merindunya menghempasku atau sebaliknya
tawa, tapi malah bertanya tawa ini untuk siapa bahagia, adakah sebabnya jikapun bahagia memang ada
hampa.. hening.. hambar.. hilang..
| | |
| ini cerita malam hari saat mentari lelap bermimpi dan bumi masih saja menanti..
sepertinya malam tidak lelah bergumam lalu untuk apa dia terus tenggelam? mungkin kelam tidak juga mampu tuk menghilang namun mengapa tak segera bangkit temui pagi menjelang?
jadi jangan salahkan mentari yang kian bersembunyi dan bukan berarti bumi lantas bersalah ketika semesta mulai menggulirkan cerita
kurindu tuk diingini.. kurindu tuk dirindui.. mungkin ku dibutakan oleh banyak kerlipan semu.. namun ku masih menunggu tuk mengecup lagi seruan sendu
ini bukan ketidakpastian hanya memang waktu belum cukup mengada.. | | |
| jika kau dahaga, aku hanyalah setetes embun
jika kau lapar, aku hanyalah remah-remah
jika kau hampa, aku hanyalah sehela napas
jika kau butuh impian aku hanyalah fatamorgana
bagi mereka aku adalah setitik tinta hitam di antara ribuan lantunan puisi dan lagumu..
bagi kamu?
| | |
| berapa lama lagi? kutanya pada malam pada matahari pagi bersinar terang pada lautan luas mendada pada belantara menghijau tebal
berapa lama lagi? berapa kali lagi! seumur hidup kuhidup tersembunyi yang menderita karena ketertutupan manusiawi
berapa banyak lagi⦠harapan yang mulai terkulai lemah berat hati menerima kenyataan sendu, pilu, mengiris rasa bayang bayang terus menerus menutupi langkahku
berapa banyak lagi.. segala isyarat tuk tetap menggelap, membuncah dalam gambar tanpa warna yang berusaha menutupi air mata..
berapa... lagi....
| | |
|